Sabtu, 04 Juni 2011

Surat dari Bung Tomo Mudaku [Cerpen]

  Terselip selembar amplop di bawah pintu kos. Ambar kemudian membuka pintu, melepas sepatunya dan meletakkannya di rak. Ia lalu masuk ke kamar kosnya. Diambilnya amplop putih buatan sendiri yang dibuat dari kertas bekas ketikan. Tertulis dimuka amplop, untuk Ambar dan dibaliknya tertulis nama pengirim, Yoga. Yah, surat khas dari Yoga yang selalu berfikir "green". Dengan tergesa-gesa Ambar menutup pintu dan menguncinya. Dijatuhkan semua bawaannya di meja dan Ambar langsung menjatuhkan tubuhnya di peraduan. Tak sabar ia membuka lalu membaca surat dari Yoga. Tulisan yang berantakan, tidak indah, kasar, tapi tulisannya terbaca sangat jelas. Terbayang sosok Yoga yang bersemangat, bajunya yang walaupun tidak rapi tapi selalu terlihat bersih. Tingkahnya konyol, pribadinya tulus, dan mudah sekali berempati pada orang. Sekali lagi Ambar bergumam dalam hati, inilah Yoga.

Salam

Untuk Ambar,

Maaf jika suratku ini akan membuatmu menangis. Aku tidak bisa menerima pernyataanmu tadi pagi. Bukan kau yang salah. Bukan kau yang membuat aku tidak bisa menerimamu. Tapi aku yang salah. Mungkin rasanya tidak adil membuatmu patah hati karena aku tidak bisa menerima perasaanmu. Sungguh, ini bukan salahmu. Sekali lagi aku katakan ini salahku yang masih belum bisa membuka hati.

Air mata Ambar meleleh. Ia tahu apa maksud surat dari Yoga. Hanya dengan membaca alinea pertama. Sejenak ia termangu dan menatap langit-langit kamarnya. Kemudian ia kembali membaca surat dari Yoga.

Mungkin kau sekarang bertanya-tanya dalam hati, mengapa aku tidak bisa membuka hatiku. Di hatiku masih ada luka. Luka ini masih terasa sakit jika tersentuh dan aku tidak ingin kau menyentuh luka ini. Bukan, luka ini bukan salah mu. Sekali lagi aku mengatakan ini salah ku. Pertemuanku dengan seorang gadis telah menorehkan sebuah luka. Dan aku takut luka ini kembali menganga. Meski kami hanya berkenalan sebulan.

Aku tidak tahu kapan luka ini akan pulih. Aku juga tidak tahu apakah aku akan berusaha pulih dari luka ini atau aku akan menikmati luka ini selamanya. Aku minta kau jangan menungguku. Maaf. Mungkin ini terasa tidak adil untukmu. Jangan tunggu aku. Salam.

Sahabatmu,

Yoga

Air mata Ambar semakin deras mengalir. Pertanyaannya telah terjawab. Hanya saja jawaban itu terlalu perih untuknya. Ambar pun berbicara sendiri dalam hati.

Yoga, Aku tidak tahu apakah aku bisa melupakanmu. Aku tidak tahu apakah aku bisa memenuhi permintaanmu. Aku ingin menunggumu. Aku ingin memiliki lukamu. Aku ingin memiliki kesedihanmu. Aku ingin memilikimu. Merindukanmu bagai menantikan segelas air segar di tengah padang pasir. Kau yang begitu bersemangat. Kau yang misterius. Kau yang selalu membawa keceriaan dan gairah kepada semua orang yang ada di sekitarmu. Mengapa kau ingin memikul bebanmu sendiran. Aku ingin kau berbagi beban dengan ku. Aku ingin kau merasa menjadi pahlawan di saat aku bersandar di bahumu. Aku juga ingin membelaimu di saat kau sedang lelah. Aku ingin menjadi sandaranmu di saat kau sedang lemah. Semakin aku tahu begitu dalam lukamu, semakin aku ingin memilikimu. Biarkan ku balut lukamu. Biarkan cintaku menyembuhkanmu.

Kemudian secarik kertas kecil menyembul dibalik surat dari Yoga.

Hai putri cantik. Tersenyumlah! Apa kau ingin dunia ini menjadi muram karena melihatmu sedang bersedih? Tersenyumlah. Mungkin seorang pangeran berkuda putih yang sudah dicatatkan di garis takdimu akan segera menjemputmu. Dan itu mungkin bukan aku. MERDEKA!!!:D

Ambar tersenyum, tertawa. Air matanya tidak henti mengalir. Tidak tahu apa yang dia rasa sekarang. Sekali lagi Ambar menatap langit-langit kamarnya. Menerawang menembus batas ruang kamarnya.

Yoga, apa tahu kau bahwa aku selalu memperhatikanmu. Setiap kali kau memasuki kelas. Setiap kali kau berdiri dari tempat dudukmu. Setiap kali kau memimpin diskusi. Setiap kali kau berada di atas panggung. Setiap kali kau membaca puisi. Setiap kali kau mengobarkan semangat ketika kita berdemonstrasi. Bahkan kau terlihat begitu mempesona ketika kau sholat di jalanan saat kita sedang berdemonstrasi. Kau yang menyebalkan. Kau yang egois. Kadang kau dingin dan kaku seperti es tapi kadang aku merasa hangat di dekatmu. Pandanganmu teduh membiusku. Setiap nasihatmu menjadi azimat bagiku. Kau yang terus menebar semangat. Kau yang tidak pernah berhenti berusaha berjuang dengan tulisan-tulisanmu di mading kampus. Kau terlihat bercahaya. Kau telah merampok segala kekagumanku tentang sosok seorang pejuang. Kau adalah sosok seorang pejuang yang nyata di mataku. Mungkin kau bercita-cita menjadi Hatta. Tapi bagiku kau adalah Bung Tomo. Kau selalu memberiku semangat setiap kali kau pekikkan kata MERDEKA. Kau adalah Bung Tomo bagi ku.